Notification

×

Iklan

Iklan

Ketika Guru Bersaksi di MK: Catatan Penting Tentang MBG dan Masa Depan Pendidikan

Kamis, 18 Juni 2026 | 14:38 WIB Last Updated 2026-06-18T07:38:13Z
Oleh: Reza Batubara

Ketika seorang guru bersaksi di Mahkamah Konstitusi (MK) terkait program Makan Bergizi Gratis (MBG), ada pesan penting yang sebenarnya sedang disampaikan: bahwa setiap kebijakan pendidikan harus selalu dilihat dari dua sisi, yaitu cita-cita besar pemerintah dan realitas yang terjadi di lingkungan sekolah.

Saya bukan guru yang mengajar di sekolah penerima manfaat program MBG. Saya tidak mengalami secara langsung bagaimana proses pembagian makanan, pengelolaan program, maupun tantangan teknis di sekolah yang menjadi sasaran MBG. Namun, sebagai seorang pendidik di Sumatra Utara, saya memahami bahwa setiap kebijakan yang masuk ke sekolah akan bersentuhan langsung dengan kehidupan guru, peserta didik, dan proses pembelajaran.

MBG hadir dengan tujuan yang sangat baik. Anak-anak membutuhkan asupan gizi yang cukup agar dapat tumbuh dan belajar secara optimal. Pendidikan tidak hanya dimulai dari ruang kelas, tetapi juga dari pemenuhan kebutuhan dasar anak. Karena itu, upaya negara dalam memperhatikan gizi peserta didik merupakan langkah yang patut diapresiasi. Namun, kebijakan besar juga membutuhkan perencanaan dan pengawasan yang besar pula.

Program MBG menjadi perhatian publik salah satunya karena berkaitan dengan anggaran yang sangat besar. Pada tahun 2026, anggaran Badan Gizi Nasional (BGN) untuk menjalankan program ini disebut mencapai sekitar Rp268 triliun, dengan sebagian besar disebut berasal dari fungsi pendidikan. Besarnya anggaran tersebut tentu membuat masyarakat, termasuk para pendidik, memiliki harapan agar program ini benar-benar memberikan dampak nyata bagi peserta didik.

Sebagai guru, pertanyaan yang muncul bukan sekadar apakah MBG merupakan program yang baik atau tidak. Pertanyaan yang lebih penting adalah bagaimana memastikan setiap anggaran negara benar-benar memberikan pengaruh terhadap peningkatan kualitas pendidikan secara menyeluruh.

Sebab di lapangan, dunia pendidikan masih menghadapi banyak pekerjaan rumah. Sekolah masih membutuhkan penguatan fasilitas, peningkatan kualitas pembelajaran, dukungan terhadap guru, serta berbagai kebutuhan yang secara langsung berkaitan dengan proses pendidikan. Maka ketika anggaran pendidikan bersinggungan dengan program besar seperti MBG, masyarakat pendidikan tentu berharap ada keseimbangan dan transparansi dalam pengelolaannya.

Terlebih lagi, publik kemudian dikejutkan dengan adanya proses hukum terhadap mantan pimpinan Badan Gizi Nasional (BGN). Kejaksaan Agung menetapkan mantan Kepala BGN Dadan Hindayana bersama dua mantan pejabat BGN lainnya sebagai tersangka dalam kasus dugaan korupsi terkait tata kelola MBG. Kasus ini tentu masih berjalan dalam proses hukum, namun menjadi pengingat bahwa program besar dengan anggaran besar membutuhkan sistem pengawasan yang kuat agar tujuan awalnya tidak terganggu oleh persoalan tata kelola.

Dari sudut pandang seorang guru, persoalan ini bukan tentang menolak program yang bertujuan membantu anak-anak. Justru sebaliknya, para pendidik berharap program seperti MBG dapat berjalan dengan baik karena manfaatnya berkaitan langsung dengan peserta didik.

Tetapi pendidikan membutuhkan lebih dari sekadar program. Pendidikan membutuhkan kebijakan yang mendengar suara guru, memahami kondisi sekolah, dan mempertimbangkan kebutuhan nyata di lapangan.

Kesaksian guru di MK menjadi pengingat bahwa guru bukan hanya pelaksana kegiatan belajar mengajar. Guru juga memiliki pengalaman lapangan yang dapat menjadi bahan penting dalam menyusun kebijakan pendidikan. Suara guru perlu hadir bukan hanya ketika sebuah program sudah berjalan, tetapi sejak proses perencanaan.

Pada akhirnya, keberhasilan MBG tidak hanya akan diukur dari jumlah makanan yang dibagikan atau besarnya anggaran yang digunakan. Keberhasilan program ini akan terlihat dari sejauh mana ia mampu mendukung tujuan pendidikan: menciptakan anak-anak Indonesia yang sehat, cerdas, dan memiliki masa depan yang lebih baik.

Karena masa depan pendidikan bukan hanya dibangun melalui program besar, tetapi melalui kebijakan yang tepat, tata kelola yang baik, dan kemauan untuk selalu mendengar suara dari ruang kelas.

×
Berita Terbaru Update