![]() |
| Foto: Bupati Madina memberikan cinderamata kepada Bupati Tanah Datar. |
MADINA – Bupati Mandailing Natal (Madina), H. Saipullah Nasution, menerima kunjungan kerja Bupati Tanah Datar, Provinsi Sumatera Barat, Eka Putra, di Pendopo Rumah Dinas Bupati, Desa Parbangunan, Kecamatan Panyabungan, Kamis (23/4/2026).
Pertemuan ini tidak sekadar menjadi agenda kedinasan antarkepala daerah, melainkan juga ajang silaturahmi. Saipullah dan Eka Putra, yang telah bersahabat sejak tahun 2005, memanfaatkan momen ini untuk menjajaki peluang kerja sama dalam penguatan ekonomi dan pembangunan di kedua wilayah.
Sebagai tuan rumah, Saipullah memaparkan potensi "Bumi Gordang Sambilan", mulai dari letak geografis, peluang ekonomi, sektor pariwisata, hingga produktivitas pertanian. Terkait sektor perkebunan, Saipullah menyoroti Dana Bagi Hasil (DBH) kelapa sawit yang diterima Pemkab Madina. Menurutnya, angka tersebut masih tergolong rendah padahal daerah ini memiliki potensi sawit yang sangat besar.
“Kami telah mendatangi direktorat jenderal dan kementerian terkait untuk mempertanyakan rendahnya dana bagi hasil sawit ini. Alhamdulillah, ke depannya akan ada kenaikan bagi hasil untuk Madina,” ungkap Saipullah.
Selain sektor ekonomi, Saipullah turut memperkenalkan kekayaan tradisi Madina yang kerap dijuluki sebagai “Serambi Mekkah” di Sumatera Utara. Ia menyebutkan bahwa karakteristik budaya Madina memiliki kedekatan dan kemiripan yang kuat dengan budaya masyarakat Sumatera Barat.
Di sisi lain, Bupati Tanah Datar, Eka Putra, menyampaikan rasa syukurnya bisa kembali menyambung persaudaraan dengan sahabat lamanya dan melihat langsung kemajuan Madina.
“Masyarakat Madina patut bersyukur atas kepulangan H. Saipullah Nasution untuk memimpin dan membangun daerah ini sebagai Bupati,” sebut Eka.
Dalam diskusi tersebut, Eka membagikan pengalaman Pemerintah Kabupaten Tanah Datar dalam menjalankan berbagai program unggulan, khususnya inovasi di sektor pertanian. Ia memaparkan program asuransi pertanian yang mencakup asuransi ternak sapi dan perlindungan lahan persawahan.
“Jika terjadi bencana alam, gagal panen, atau serangan hama, petani akan mendapat ganti rugi sebesar Rp6 juta per hektare. Selain itu, pemerintah juga menyediakan layanan bajak sawah gratis sehingga petani hanya perlu menanggung biaya tanam,” jelas Eka.
Eka menilai inovasi perlindungan kesejahteraan petani tersebut sangat potensial untuk diadaptasi di Madina. Ia bahkan menyatakan kesiapannya untuk menugaskan Kepala Dinas Pertanian Tanah Datar ke Madina guna memaparkan teknis pelaksanaannya secara lebih detail.
Tak hanya soal ekonomi dan pertanian, Eka Putra juga memperkenalkan program religi andalannya, yakni "Satu Rumah Satu Hafiz". Program pembinaan umat ini berjalan sukses berkat dukungan penuh dari APBD Kabupaten Tanah Datar serta kontribusi para perantau.
“Kami menargetkan setiap rumah di Tanah Datar memiliki minimal satu penghafal Al-Qur'an sebagai bagian dari program prioritas pemerintah daerah,” pungkasnya.
